Relawan Karhutla Kotim Jatuh Bangun Padamkan Api, Dua Orang Tumbang
- account_circle Fathma Aulia Puteri
- calendar_month 1 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

Relawan melakukan respons terhadap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Kalimantan. Foto: Muhammadiyah.or.id.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Jakartahitz.com, Jakarta – Perjuangan para relawan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, belum berakhir. Di tengah kobaran api dan kepungan asap tebal, mereka terus bergerak memadamkan kebakaran yang mulai mendekati permukiman warga.
Dilansir dari detikKalimantan, Sabtu (22/8), salah seorang relawan Masyarakat Peduli Api (MPA) Teluk Dalam, Muhammad Dimas, harus dilarikan ke rumah sakit setelah mengalami sesak napas saat berjibaku memadamkan api di kawasan Perumahan Grand Pelita, Jalan Pelita Barat, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang.
Dimas ditarik dari lokasi pemadaman pada Jumat (21/8) setelah kondisi fisiknya menurun. Ia mengalami sesak napas akibat kelelahan dan kepungan asap pekat yang memenuhi lokasi kebakaran. Dimas kemudian dibawa ke IGD RSUD dr Murjani Sampit untuk mendapatkan penanganan medis.
Ketua Relawan Ketapi 3, Muhammad Mahdani, mengatakan kondisi di lokasi memang cukup berat. Api yang membesar membuat asap semakin pekat sehingga para relawan kesulitan bernapas meski telah menggunakan masker.
“Artinya mungkin karena kelelahan satu. Yang kedua, memang di tempat kejadian itu api membesar, asap pekat. Akibat itu lalu sesak napas,” kata Mahdani.
Menurut Mahdani, asap yang tebal menjadi salah satu tantangan utama bagi relawan ketika melakukan pemadaman. Masker yang digunakan belum sepenuhnya mampu mengurangi dampak asap yang memenuhi area kebakaran.
“Meskipun kadang kita pakai masker tetap saja membuat sesak,” ujarnya.
Sebelum Dimas tumbang, para relawan telah berpindah dari satu lokasi ke lokasi lainnya untuk menangani kebakaran yang terjadi di sekitar permukiman. Pemadaman dilakukan di sejumlah titik, termasuk Jalan Pelita, Perumahan Panca Setia, dan Perumahan Grand Pelita.
Khusus di kawasan Grand Pelita, terdapat tiga titik api yang harus ditangani. Proses pemadaman melibatkan sejumlah kelompok relawan, di antaranya Redkar Ketapi 3, Redkar Masjid Jami Assalam, dan MPA Teluk Dalam bersama pihak kelurahan.
Dimas sendiri bukan relawan baru. Mahdani menyebut Dimas telah sekitar tiga tahun terlibat dalam kegiatan penanganan kebakaran. Namun, kondisi fisik yang terkuras ditambah paparan asap pekat membuatnya akhirnya tidak mampu melanjutkan pemadaman.
Rekan-rekan Dimas yang melihat kondisinya kemudian menghentikan aktivitasnya dan membawanya menjauh dari lokasi kebakaran. Setelah mendapatkan perawatan di RSUD dr Murjani Sampit, kondisi Dimas dilaporkan telah stabil.
Dimas bukan satu-satunya relawan yang tumbang dalam upaya menangani karhutla di Kotim. Sebelumnya, Rizky Mubarrak, relawan dari Redkar Masjid Jami Assalam, juga mengalami kondisi serupa setelah ikut melakukan pemadaman di sejumlah lokasi.
“Jadi sudah ada dua relawan yang tumbang. Kemarin Rabu, Rizky Mubarrak relawan dari Redkar Masjid Jami Assalam, saat ini kondisinya membaik,” ungkap Mahdani.
Meski dua rekannya sempat tumbang, relawan lainnya masih terus bergerak membantu pemadaman. Mereka tetap berjibaku menghadapi api dan asap dengan kondisi lapangan yang tidak mudah.
Upaya pemadaman juga dilakukan untuk mencegah api semakin meluas dan mendekati permukiman. Posisi sejumlah titik kebakaran yang berada tidak jauh dari kawasan tempat tinggal warga membuat relawan harus bergerak cepat untuk mengendalikan kobaran api.
Bagi para relawan, kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri. Mereka harus menghadapi panas dari kobaran api, asap pekat, kelelahan fisik, serta risiko kesehatan selama berada di lokasi.
Meski demikian, para relawan tetap berupaya membantu proses pemadaman. Peran mereka menjadi salah satu bagian penting dalam penanganan karhutla, khususnya ketika kebakaran terjadi di sekitar kawasan permukiman.
Kondisi dua relawan yang sempat mengalami gangguan kesehatan juga menjadi gambaran beratnya situasi di lapangan. Pemadaman karhutla tidak hanya membutuhkan tenaga dan peralatan, tetapi juga kondisi fisik yang prima karena relawan harus berada cukup dekat dengan sumber api dan asap.
Sementara itu, proses pemadaman di sejumlah titik karhutla di Kotim masih terus dilakukan. Para relawan bersama unsur terkait berupaya memastikan kobaran api tidak meluas dan semakin mengancam lingkungan sekitar.
Perjuangan mereka menunjukkan bahwa penanganan karhutla bukan hanya soal memadamkan api. Di balik setiap titik kebakaran, ada orang-orang yang harus berhadapan langsung dengan kondisi berbahaya demi mencegah api merembet ke kawasan yang lebih luas.
- Penulis: Fathma Aulia Puteri


Saat ini belum ada komentar