Menjaga Daya Pikir dan Mental Siswa di Era Digital: Dari Isu ‘Brain Rot’ Hingga Pendampingan Empatik Guru BK
- account_circle Alya Naura Maharani
- calendar_month 1 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

Sesi Diskusi Seminar Cyber Education 2026 (Dok. Alya/Jakartahitz).
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Jakartahitz.com, Jakarta – Tantangan pendidik di era digital tidak hanya terbatas pada penguasaan teknologi, melainkan juga menjaga kesehatan mental serta daya kritis peserta didik. Topik ini menjadi sorotan utama dalam sesi diskusi interaktif Seminar Cyber Education yang diselenggarakan oleh Cyber University pada Selasa (06/10/2026).
Psikolog sekaligus Founder Tunas Psikologi, Melisa Zainul, M.Psi., memaparkan bagaimana paparan media sosial dan dinamika psikologis mempengaruhi proses belajar siswa di sekolah.
Ancaman Video Pendek, Brain Rot, dan Solusi Active Learning
Menjawab pertanyaan dari Adit (SMK 41 Jakarta) mengenai penurunan daya pikir siswa di kelas, Melisa mengungkapkan bahwa pemicu utamanya bukan semata-mata keberadaan AI, melainkan tingginya konsumsi konten video pendek (short videos) tanpa batasan durasi gadget.
“Maraknya konsumsi video pendek memicu over-stimulation atau fenomena brain rot. Karakteristik konten yang serba cepat ini membuat stimulasi otak siswa menjadi sangat tinggi, sehingga mereka mudah merasa bosan dan tidak fokus saat berhadapan dengan metode pembelajaran lambat atau konvensional di kelas,” terang Melisa.
Untuk mengatasi hal tersebut, Melisa menyarankan para guru untuk mentransformasi metode mengajar melalui Active Learning (pembelajaran aktif). Variasi metode seperti diskusi kelompok, praktik langsung, serta eksplorasi luar kelas dinilai efektif merangsang kembali daya kritis dan mengakomodasi beragam gaya belajar siswa.
Pendampingan Empatik Guru BK: Connection Before Correction
Isu pendampingan siswa juga diangkat oleh Perwita Sari dari SMK 47 Jakarta yang menanyakan tata cara guru Bimbingan Konseling (BK) mendampingi siswa introvert atau pendiam yang memiliki masalah emosional tanpa menghakimi.
Melisa menekankan pentingnya guru BK untuk membedakan antara kebutuhan privasi normal dengan indikasi masalah emosional serius:
- Kebutuhan Privasi Normal: Siswa menarik diri sementara waktu untuk mengisi ulang energi (recharge), namun tetap berkomunikasi lancar dan menjalankan aktivitas harian secara wajar.
- Indikasi Masalah Emosional: Siswa mengisolasi diri secara total, menolak makan/mandi, membolos tanpa alasan, serta kehilangan minat pada hobi yang disukainya.
Jika siswa sudah menunjukkan tanda-tanda depresi berat dan tidak mampu lagi menjalankan fungsi dasar harian, Melisa menyarankan sekolah untuk merujuknya ke tenaga ahli profesional seperti Psikolog atau Psikiater.
Adapun untuk pendekatan harian guru BK di sekolah, Melisa membagikan prinsip komunikasi empatik:
- Banyak Mendengar: Kurangi kecenderungan memberikan nasihat secara terburu-buru.
- Connection Before Correction: Bangun ikatan emosional dan rasa percaya terlebih dahulu sebelum mencoba mengoreksi perilaku siswa.
- Ruang Aman: Berikan ruang yang aman bagi siswa untuk mengeksplorasi perasaan serta menemukan solusinya sendiri.
- Penulis: Alya Naura Maharani


Saat ini belum ada komentar