Menghadapi Dilema AI di Sekolah: Antara Keamanan Data, Regulasi Gadget, dan Pentingnya Literasi Digital
- account_circle Alya Naura Maharani
- calendar_month 1 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

Sesi Diskusi Seminar Cyber Education (Dok. Alya/Jakartahitz)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Jakartahitz.com, Jakarta – Perkembangan pesat teknologi Artificial Intelligence (AI) tidak hanya membawa kemudahan, tetapi juga memunculkan dilema di lingkungan pendidikan. Isu seputar keamanan data pribadi hingga efektivitas aturan penggunaan gadget menjadi pembahasan hangat dalam Sesi Tanya Jawab Seminar Cyber Education bertajuk “AI, Identity, & Mental Health: Tantangan Psikologi Remaja di Era Artificial Intelligence” yang digelar oleh Cyber University pada Selasa (6/10/2026).
Pakar AI Specialist & Dico Partner, Ricki Sastra, M.Kom., menegaskan bahwa penerapan AI di lingkungan sekolah memerlukan pemahaman mendalam terkait mitigasi risiko digital serta regulasi yang tepat.
Langkah Praktis Menanggulangi Kebocoran Data saat Menggunakan AI
Menjawab pertanyaan dari Adit, seorang guru dari SMK 41 Jakarta mengenai risiko kebocoran data pribadi pada aplikasi AI, Ricki menjelaskan bahwa ancaman siber umumnya timbul akibat kecerobohan dasar saat melakukan pendaftaran (sign-up) atau login di perangkat publik.
“Banyak pengguna yang mendaftar layanan AI dengan akun email utama yang terhubung langsung ke aplikasi perbankan atau data finansial penting. Hal ini sangat berisiko,” jelas Ricki.
Untuk mengantisipasi hal tersebut, ia membagikan tiga langkah praktis:
- Gunakan Email Dummy: Hindari pemakaian email utama/finansial untuk mencoba berbagai platform AI.
- Eksplorasi Aman: Gunakan akun khusus eksperimen teknologi agar data sensitif tidak terekspos.
- Disiplin Log Out: Selalu keluar (log out) dari akun setelah selesai menggunakan platform AI di perangkat bersama atau komputer kantor/sekolah.
Dilema Aturan Gadget: Larangan Total Tak Lagi Efektif
Selain keamanan data, masalah regulasi gadget dan AI di sekolah juga ditanyakan oleh Tria, perwakilan dari SMK Pelita Depok. Menanggapi hal tersebut, Ricki Sastra bersama Psikolog Melisa Zainul, M.Psi., sepakat bahwa kebijakan melarang total penggunaan gadget di sekolah sudah tidak relevan dengan kebutuhan zaman.
“Melarang gadget secara mutlak justru berisiko membuat siswa gagap teknologi (stutter) saat mereka melangkah ke perguruan tinggi maupun dunia kerja modern,” papar Ricki.
Sebagai solusinya, narasumber menyarankan pendekatan regulasi yang adaptif dan konstruktif:
- Mengacu pada Regulasi Resmi: Sekolah disarankan menyusun aturan turunan berdasarkan panduan pemerintah, seperti Surat Keputusan Bersama (SKB) 7 Menteri.
- AI Sebagai Pembantu, Bukan Penentu: Alihkan peran AI sebagai alat pembantu draf atau pencetus ide awal (brainstorming). Penentu hasil akhir tetap berada pada siswa melalui proses validasi data, analisis kritis, serta presentasi mandiri.
- Penguatan Literasi Digital: Mengedukasi siswa agar memiliki karakter continuous improvement (pembelajar sepanjang hayat) yang bijak memanfaatkan teknologi.
- Penulis: Alya Naura Maharani


Saat ini belum ada komentar