Dampak AI terhadap Kesehatan Mental Remaja: Psikolog Ingatkan Risiko Penurunan Daya Juang dan Keterikatan Emosional
- account_circle Alya Naura Maharani
- calendar_month Selasa, 6 Okt 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak

Narasumber Seminar Cyber Education: Psikolog sekaligus Founder Tunas Psikologi, Melisa Zainul, M.Psi., memaparkan bagaimana kemudahan teknologi AI yang serba instan berpotensi memengaruhi daya juang, kapasitas intelektual, serta kondisi emosional remaja.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Jakartahitz.com, Jakarta – Di tengah pesatnya adopsi teknologi cerdas pada kalangan generasi muda, dampak kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) terhadap kondisi psikologis dan kesehatan mental remaja menjadi perhatian serius. Isu kritikal ini dibahas secara mendalam dalam Sesi 2 Seminar Cyber Education bertajuk “AI, Identity, & Mental Health: Tantangan Psikologi Remaja di Era Artificial Intelligence” yang diselenggarakan oleh Cyber University pada Selasa (6/10/2026).
Hadir sebagai narasumber, Psikolog sekaligus Founder Tunas Psikologi, Melisa Zainul, M.Psi., memaparkan bagaimana kemudahan teknologi AI yang serba instan berpotensi memengaruhi daya juang, kapasitas intelektual, serta kondisi emosional remaja.
Fenomena Instan dan Penurunan Daya Juang (Resilience)
Dalam pemaparannya, Melisa menyoroti penurunan resiliensi atau daya juang pada remaja sebagai akibat dari kemudahan berlebih yang ditawarkan teknologi modern. Menurutnya, ketangguhan mental seseorang tidak dapat terbentuk secara instan, melainkan melalui proses menghadapi tantangan.
“Kemudahan berlebih dari teknologi dapat menghambat terbentuknya ketangguhan mental. Ketangguhan itu hanya terasah ketika seseorang menghadapi dan menyelesaikan masalah secara mandiri,” ungkap Melisa.
Ia juga mengaitkan fenomena ini dengan Reverse-Flynn Effect, yaitu tren penurunan skor IQ dan kemampuan berpikir kritis-analitis yang teramati sejak generasi kelahiran 1990-an hingga Gen Z. Penyebab utamanya ditengarai akibat ketergantungan pada fasilitas serba praktis serta minimnya stimulasi untuk berpikir mendalam.
Keterikatan Emosional dengan AI dan Isolasi Sosial
Salah satu temuan yang cukup mengejutkan adalah tingginya tingkat interaksi remaja Indonesia dengan aplikasi AI chatbot. Indonesia tercatat sebagai negara terbesar kedua di dunia dalam penggunaan Character AI.
Melisa memperingatkan risiko sosial yang mengintai di balik tren ini. Remaja yang terlalu terikat secara emosional dengan AI chatbot berisiko mengalami kendala dalam dunia nyata. Mereka cenderung kesulitan dalam menjalin interaksi sosial langsung dan membangun hubungan emosional yang sehat di kehidupan nyata.
Batas Fungsi AI: Empati Manusia yang Tak Tergantikan
Meski AI dapat difungsikan untuk deteksi awal atau memberikan dukungan psikologis dasar, Melisa menegaskan bahwa teknologi ini memiliki keterbatasan mendasar yang tidak bisa menggantikan peran manusia.
- Bukan Alat Diagnosis: AI bukanlah sarana diagnosis psikologis resmi.
- Ketiadaan Empati Hakiki: AI tidak memiliki empati nyata, kehadiran fisik, maupun sentuhan emosional (seperti pelukan atau dukungan moral langsung).
“Kehadiran fisik, empati nyata, dan sentuhan emosional inilah yang menjadi keunggulan utama interaksi antarmanusia, baik oleh sesama teman, orang tua, maupun guru Bimbingan Konseling (BK) di sekolah,” jelas Melisa menutup paparannya.
- Penulis: Alya Naura Maharani


Saat ini belum ada komentar