Seminar Cyber Education 2026: Mengupas Integrasi AI dalam Edukasi, Antara Peluang dan Tantangan Pelajar
- account_circle Alya Naura Maharani
- calendar_month 1 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

Narasumber Seminar Cyber Education: Ricki Sastra, M.Kom. (Dok. Cyber University)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Jakartahitz.com, Jakarta – Perkembangan Artificial Intelligence (AI) di dunia pendidikan berlangsung sangat cepat dan membawa perubahan mendasar pada cara siswa belajar. Menjawab tantangan dan peluang tersebut, Cyber University menggelar Seminar Cyber Education bertajuk “AI, Identity, & Mental Health: Tantangan Psikologi Remaja di Era Artificial Intelligence” pada Selasa (6/10/2026).
Pada sesi seminar bertajuk AI & Integrasi dalam Edukasi, pakar AI sekaligus Dico Partner, Ricki Sastra, M.Kom., memaparkan secara komprehensif peta pemanfaatan AI di kalangan pelajar serta dampaknya terhadap sistem pembelajaran modern.
Tingginya Adopsi AI di Kalangan Generasi Muda
Dalam pemaparannya, Ricki menyajikan data terkini dari survei APII 2025 dan UNESCO yang menunjukkan penetrasi AI yang sangat masif di dunia pendidikan:
- 87% pelajar di Indonesia tercatat telah memanfaatkan teknologi AI.
- 43,7% pengguna AI berasal dari kelompok Gen Z rentang usia 14–20 tahun.
- Di tingkat global, lebih dari 2/3 siswa sekolah menengah di negara berpendapatan tinggi aktif menggunakan Generative AI (GenAI) untuk membuat materi maupun konten pembelajaran.
Meski adopsinya sangat tinggi, survei UNESCO mencatat fakta krusial bahwa baru 10% sekolah dan universitas yang memiliki kebijakan atau regulasi penggunaan GenAI secara terstruktur.
Ricki juga merinci distribusi pemanfaatan AI oleh pelajar berdasarkan tujuannya:
- Edukasi & Pembelajaran: 43,98%
- Pencarian Materi: 29,52%
- Asisten Virtual: 13,48%
- Produktivitas: 12,37%
AI Sebagai Pendamping dan Pendorong Inklusivitas Belajar
Ricki menegaskan pentingnya meluruskan cara pandang masyarakat terhadap AI. “AI diciptakan sebagai pendamping manusia, bukan untuk menggantikan peran manusia. Teknologi ini bekerja dengan meniru dan mengikuti pola data manusia yang terus berkembang melalui pelatihan model, evaluasi, dan inovasi berkelanjutan,” jelasnya.
Salah satu nilai tambah utama AI di dunia edukasi adalah mendorong inklusivitas belajar. AI mampu mengakomodasi berbagai variasi gaya belajar siswa, seperti mengubah teks materi yang panjang menjadi format audio bagi siswa yang kesulitan membaca teks tebal (gaya belajar auditori).
Risiko dan Tantangan bagi Daya Analisis Siswa
Di balik berbagai kemudahannya, Ricki mengingatkan adanya risiko serius jika AI digunakan secara tidak bijak tanpa daya kritis:
- Ketergantungan Instan: Kebiasaan mengandalkan AI tanpa proses berpikir kritis dapat melemahkan fungsi analitis otak.
- Plagiarisme & Keabsahan Data: AI menyerap data dari berbagai sumber di internet yang belum tentu valid atau terjamin akurasinya.
- Penurunan Daya Analisis: Otak berisiko menjadi pasif jika siswa hanya menerima hasil akhir secara langsung tanpa memahami prosesnya.
Redefini Peran Guru di Era Digital
Menghadapi era AI, Ricki menekankan bahwa peran tenaga pendidik menjadi jauh lebih krusial. Guru diharapkan tidak memusuhi atau melarang penggunaan AI secara total, melainkan mengambil peran sebagai fasilitator dan pembentuk karakter.
“Guru bertugas mengarahkan pemanfaatan AI agar tepat guna. Di sisi lain, guru juga dapat memanfaatkan AI untuk efisiensi tugas administrasi, personalisasi pembelajaran bagi tiap siswa, hingga pengembangan ide materi mengajar yang lebih kreatif dan interaktif,” pungkas Ricki.
- Penulis: Alya Naura Maharani


Saat ini belum ada komentar