Pemimpin atau Bajingan Bermedali? Ketika Organisasi Sekadar Jadi Lahan Eksploitasi
- account_circle Mohammad Fatih Shaleh
- calendar_month Rabu, 20 Mei 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Jakartahitz.com – Dalam literatur maupun praktik lapangan, kita mengenal dua kutub kepemimpinan yang ideal. Pertama, tipe pekerja lapangan yang rela mengotori tangannya, turun langsung ke akar rumput untuk membedah dan menyelesaikan masalah. Kedua, tipe arsitek sistem, yang mungkin tak selalu terlihat berpeluh di garis depan, namun keahliannya merajut tata kelola mampu membuat seluruh roda organisasi berputar mulus. Ia memastikan setiap anggota merasa dihargai dan mendapatkan balasan yang setimpal atas kerja keras mereka.
Keduanya adalah rahim bagi kemajuan. Namun, bagaimana jika yang duduk di kursi pucuk pimpinan justru tidak memiliki kapasitas dari kedua kutub tersebut?
Banyak organisasi saat ini tengah berhadapan pada tuntutan eskalasi, berusaha naik kelas dan melampaui pencapaian tahun-tahun sebelumnya. Sayangnya, transisi ini sering kali menabrak tembok tebal bernama inkompetensi manajerial. Masalah demi masalah dibiarkan menumpuk, sistem acak-acakan, dan ketidakmampuan mengelola anggota menjadi tontonan sehari-hari.
Jika kelemahan manajerial itu dibarengi dengan praktik koruptif, lari dari tanggung jawab, dan hilangnya urat malu, sebuah pertanyaan fundamental harus diajukan: masih pantaskah gelar “pemimpin” itu disematkan kepadanya?
Jawabannya dengan tegas adalah tidak. Entitas semacam ini lebih layak disebut sebagai bajingan bermedali. Praktik yang mereka jalankan bukanlah sebuah gaya kepemimpinan, melainkan wajah baru dari kolonialisme. Organisasi direduksi nilainya, sekadar dijadikan lahan eksploitasi untuk memuaskan ego pribadi.
Tragisnya, hasil dari eksploitasi dan “korupsi” di dalam tubuh organisasi ini, baik itu korupsi sumber daya, waktu, maupun dana, tidak pernah dialokasikan untuk hal-hal yang sifatnya membangun. Alih-alih digunakan untuk mengembangkan kapasitas diri sang pemimpin, kemewahan jabatan itu justru dihamburkan demi kepentingan personal yang kelewat dangkal: sekadar untuk bermesraan dengan kekasihnya. Sebuah ironi yang menampar telak muruah organisasi.
Tidak ada kata maaf untuk hal ini, dan tidak boleh ada secuil pun ruang untuk menormalisasi perbuatan semacam itu. Salah tetaplah salah!
Tentu, akan ada barisan pembela (atau mungkin sang pemimpin itu sendiri) yang merespons kritik ini dengan narasi defensif. Mereka akan berteriak bahwa tulisan semacam ini adalah bentuk intimidasi, serangan personal, atau penyalahgunaan nama baik pimpinan.
Mari luruskan cara pandang yang sesat tersebut. Membongkar kebusukan dari dalam bukanlah sebuah pembangkangan, melainkan bentuk tertinggi dari kepedulian terhadap napas organisasi yang sedang kita jalani bersama. Membiarkan kebiasaan buruk ini berlarut dengan dalih “menjaga wibawa atasan” sama saja dengan menandatangani surat kematian bagi organisasi itu sendiri.
Maka, sebelum kerusakan struktural ini semakin mengakar, ada dua langkah fundamental yang wajib diretas oleh mereka yang merasa memegang kendali kepemimpinan.
Pertama, perbaiki isi kepala Anda. Susunlah pola pikir Anda agar tertata dengan benar, setidaknya serapi Anda menyusun rambut yang selalu Anda pamerkan itu. Ketampanan visual tidak akan pernah bisa menutupi kecacatan intelektual dan kebobrokan manajerial.
Kedua, belajarlah untuk menunduk. Turunkan ego Anda dan dengarkanlah apa yang benar-benar diperlukan oleh masyarakat organisasi di akar rumput. Berhentilah sekadar sibuk mencari muka dan hanya mendengarkan apa yang diperlukan oleh senior organisasi. Sebab pada akhirnya, legitimasi seorang pemimpin tidak pernah datang dari tepuk tangan para pendahulu, melainkan dari kesejahteraan dan keadilan yang dirasakan oleh mereka yang dipimpinnya.
- Penulis: Mohammad Fatih Shaleh
- Editor: Rifqi Firdaus


Saat ini belum ada komentar