RS Swasta di Bali Adopsi Tanda Tangan Elektronik untuk Rekam Medis
- account_circle Redaksi
- calendar_month Rabu, 13 Mei 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Jakartahitz.com, Denpasar – Asosiasi Rumah Sakit Swasta Indonesia (ARSSI) Cabang Bali menggandeng perusahaan identitas digital Privy untuk mengimplementasikan tanda tangan elektronik (TTE) tersertifikasi. Langkah ini bertujuan mengakselerasi digitalisasi rekam medis di 50 rumah sakit swasta di wilayah Bali, Selasa (12/5).
Inisiatif tersebut merespons Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 24 Tahun 2022 yang mewajibkan seluruh fasilitas kesehatan menyelenggarakan Rekam Medis Elektronik (RME). Digitalisasi ini mencakup alur administrasi, e-resep dokter, persetujuan tindakan medis, hingga pengelolaan klaim BPJS Kesehatan.
Ketua Tim Kerja Kesehatan Lanjutan dan Bioteknologi Kemenkes RI, Haidar Istiqlal, menyatakan bahwa RME adalah investasi strategis untuk membangun ekosistem data yang terintegrasi. Menurutnya, kualitas data yang terstruktur menjadi fondasi penting bagi transformasi layanan kesehatan nasional.
“Ketika dokumen ditandatangani secara elektronik dengan sertifikat yang sah, integrasi antar fasilitas kesehatan dapat berjalan akurat dan efisien,” ujar Haidar dalam forum CEO Meeting di Denpasar. Ia menekankan bahwa teknologi ini sangat krusial untuk diadopsi segera di tingkat provinsi.
Kepala Bagian IT BPJS Kesehatan Kedeputian Wilayah XI, Frizco Surgaria, menambahkan bahwa digitalisasi dokumen berdampak langsung pada kecepatan pembayaran klaim. Dokumen yang terintegrasi meminimalisir kesalahan administrasi yang sering menjadi penyebab tertundanya pembayaran klaim ke rumah sakit.
“Harapannya, proses pengajuan klaim lebih cepat dan peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) mendapatkan layanan yang efisien,” ungkap Frizco. Hal ini dinilai akan menguntungkan pihak rumah sakit maupun masyarakat sebagai pasien.
Ketua ARSSI Cabang Bali, dr. I Nyoman Gede Bayu Wiratama Suwedia, menjelaskan bahwa kolaborasi ini merupakan bentuk gotong-royong menghadapi tantangan digitalisasi. Saat ini, 50 rumah sakit anggota ARSSI di Bali mulai menyelaraskan kesiapan sistem dan integrasi data mereka.
“Kami menggandeng Privy sebagai penyedia identitas digital yang telah dipercaya beragam institusi kesehatan untuk mendukung digitalisasi di Bali,” kata Bayu. Ia berharap rumah sakit swasta semakin solid dalam mengadopsi teknologi yang sah secara hukum.
Sementara itu, Vice President Business Development Privy, Bara Sakti Walandouw, menjelaskan bahwa integrasi TTE dapat memangkas waktu birokrasi internal rumah sakit dari hitungan hari menjadi menit. “Saat ini, layanan Privy telah digunakan oleh 71 juta pengguna dan 200 ribu perusahaan, termasuk jaringan grup rumah sakit besar,” ujarnya.
Ia menyebut, akselerasi digitalisasi ini diharapkan tidak hanya memenuhi regulasi pemerintah, tetapi juga meningkatkan standar keamanan data pasien secara nasional. Transformasi ini menjadi pijakan penting bagi rumah sakit swasta untuk mewujudkan misi pelayanan kesehatan yang lebih modern, cepat, dan transparan.
- Penulis: Redaksi


Saat ini belum ada komentar