Survei FINETIKS: Tekanan Finansial Karyawan Jadi Risiko Nyata bagi Bisnis
- account_circle Redaksi
- calendar_month Senin, 4 Mei 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Jakartahitz.com, Jakarta – Platform pengelolaan keuangan pribadi, FINETIKS, merilis survei terbaru yang mengungkap bahwa tekanan finansial karyawan kini enjadi risiko bisnis yang serius. Data menunjukkan 72 persen karyawan profesional mengakui bahwa kondisi keuangan mereka berdampak langsung pada performa kerja.
Survei lintas industri ini dilakukan sepanjang Desember 2025 hingga Maret 2026. Temuan utama menunjukkan bahwa 56 persen karyawan tidak memiliki dana darurat yang memadai untuk menghadapi situasi mendesak.
CEO FINETIKS, Cameron Goh, menegaskan bahwa kesehatan finansial tidak bisa lagi dipandang sebagai urusan pribadi semata. Menurutnya, masalah ini berdampak signifikan terhadap operasional harian perusahaan.
“Kesehatan finansial karyawan seringkali dipandang sebagai urusan pribadi, padahal dampaknya sangat terasa dalam operasional bisnis. Ini menjadi risiko bisnis ‘tersembunyi’ yang dampaknya signifikan,” ujar Cameron dalam keterangan tertulisnya.
Fenomena Presenteeism dan Produktivitas
Tekanan finansial juga memicu fenomena presenteeism, di mana karyawan tetap hadir bekerja namun tidak sepenuhnya produktif. Sekitar 58 persen responden bahkan mengaku harus menunda kebutuhan penting akibat keterbatasan arus kas.
Data survei mengungkap bahwa 51 persen karyawan masih memiliki utang konsumtif aktif, mulai dari PayLater hingga pinjaman online. Kondisi ini membuat karyawan sulit berkonsentrasi dan mengambil keputusan secara optimal saat bekerja.
“Karyawan yang mengalami tekanan finansial cenderung menghadapi kesulitan dalam berkolaborasi. Dalam jangka panjang, situasi ini berpotensi meningkatkan risiko turnover,” tambah Cameron.
Perbedaan Tekanan di Berbagai Sektor
Menariknya, survei ini menemukan pola tekanan yang konsisten di berbagai industri. Di sektor kreatif, seluruh responden atau 100 persen mengaku mengalami stres finansial yang cukup tinggi.
Sektor pendidikan mencatat tingkat utang konsumtif tertinggi sebesar 69 persen, disusul media digital dengan 74 persen responden terdampak. Bahkan di sektor fintech yang memiliki literasi keuangan baik, tekanan finansial tetap ditemukan.
Cameron menilai bahwa edukasi saja tidak cukup tanpa adanya sistem dan kebiasaan finansial yang kuat. Hal ini mendorong FINETIKS menghadirkan program “MONEY BOSS” untuk membantu karyawan mengimplementasikan strategi keuangan nyata.
Integrasi financial wellness sebagai bagian dari strategi sumber daya manusia diyakini akan memberikan dampak positif jangka panjang. Perusahaan yang peduli pada aspek ini diprediksi akan memiliki loyalitas karyawan yang lebih kuat dan budaya kerja yang lebih sehat.
- Penulis: Redaksi


Saat ini belum ada komentar