BRIN Dukung Mahasiswa STKIP Payakumbuh Kuliah Lapangan di Candi Kedaton Jambi
- account_circle Redaksi
- calendar_month Rabu, 13 Mei 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Jakartahitz.com, Jambi – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mendukung 19 mahasiswa Program Studi Pendidikan Sejarah STKIP Yayasan Abdi Pendidikan Payakumbuh melakukan kuliah lapangan di Candi Kedaton, Jambi, Selasa (28/4) silam. Kegiatan ini bertujuan memperkuat pendidikan sejarah berbasis riset langsung di lapangan.
Rangkaian kunjungan studi ini berlangsung pada 27–30 April 2026 yang mencakup wilayah Jambi dan Sawah Lunto. Agenda ini merupakan implementasi kerja sama strategis antara STKIP Payakumbuh dengan Pusat Riset Khazanah Keagamaan dan Peradaban (PR-KKP) BRIN sejak September 2025.
Peneliti PR-KKP BRIN, Zusneli Zubir, menjelaskan bahwa kegiatan ini dirancang untuk memperluas cakrawala mahasiswa mengenai situs Muaro Jambi. Ia berharap pengalaman ini menjadi modal berharga bagi calon pendidik.
“Tujuannya agar mahasiswa memiliki wawasan luas mengenai peninggalan sejarah. Ini akan menjadi bahan ajar yang efektif saat mereka nantinya berprofesi sebagai guru,” ujar Zusneli dalam keterangan tertulis kepada media, Rabu (13/5).
Candi Kedaton sendiri merupakan situs arkeologi utama di kompleks Muaro Jambi. Kawasan ini dikenal sebagai pusat peradaban Kerajaan Melayu serta pusat Hindu-Buddha di Sumatra Timur pada abad ke-7.
Sementara itu, Kepala Balai Pelestarian Wilayah Jambi, Yanto H.M Manurung, menekankan pentingnya interaksi langsung dengan objek sejarah. Menurutnya, teori di kelas harus diuji dengan kondisi autentik di lapangan.
“Kunjungan ini sangat penting karena memungkinkan pengalaman belajar langsung. Mahasiswa dapat melihat bukti material sejarah secara nyata,” ungkap Yanto.
Secara historis, situs Muaro Jambi pertama kali dilaporkan oleh perwira Inggris S.C. Crooke pada 1824. Kini, kompleks tersebut menjadi salah satu situs Buddha terbesar di Asia Tenggara yang terus dikembangkan melalui penelitian arkeologi.
Arkeolog Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah Jambi, Novie Hari Putranto, menyebut kawasan ini sebagai pusat edukasi yang unik. Perpaduan struktur bata kuno dan kanal sejarah menghadirkan suasana laboratorium alam yang tenang.
“Kawasan ini memberikan wawasan tentang sistem tata kota kuno dan ritual keagamaan kerajaan Melayu,” tambah dosen pendamping, Fikrul Hanif Sufyan.
Ketua rombongan, Dedi Asmara, menutup rangkaian kegiatan dengan menekankan pada aspek analisis kritis. Ia ingin mahasiswa mampu menghubungkan metode konstruksi kuno dengan literatur yang selama ini dipelajari.
Melalui kolaborasi ini, mahasiswa diharapkan tidak hanya menguasai data sejarah, tetapi juga menumbuhkan kesadaran akan pentingnya konservasi. Pelestarian situs bersejarah merupakan kunci dalam menjaga identitas dan jati diri bangsa di masa depan.
- Penulis: Redaksi


Saat ini belum ada komentar