Rupiah Jebol Rp18.000 per Dolar AS, Tertekan Faktor Global dan Domestik
- account_circle Fathma Aulia Puteri
- calendar_month Kamis, 4 Jun 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Jakartahitz.com, Jakarta – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menembus level psikologis Rp18.000 pada perdagangan Kamis (4/6). Pelemahan tersebut terjadi di tengah tekanan global dan domestik yang masih membayangi pasar keuangan Indonesia.
Dilansir dari CNN Indonesia, Kamis (4/6), rupiah jebol level Rp18.000 per dolar AS pada perdagangan pagi hari setelah sebelumnya ditutup melemah ke posisi Rp17.966 per dolar AS. Kondisi tersebut menjadikan nilai tukar rupiah berada pada salah satu titik terlemahnya dalam beberapa waktu terakhir.
Pelemahan rupiah terjadi seiring meningkatnya tekanan terhadap sejumlah mata uang negara berkembang. Penguatan dolar AS masih menjadi faktor utama yang memengaruhi pergerakan nilai tukar di berbagai negara, termasuk Indonesia.
Mengutip dari ANTARA, Kamis (4/6), pelemahan rupiah dipengaruhi oleh kombinasi faktor eksternal dan domestik. Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menyebut ketidakpastian ekonomi global, meningkatnya permintaan aset safe haven, serta perkembangan geopolitik dunia turut mendorong penguatan dolar AS.
Selain faktor global, tekanan terhadap rupiah juga berasal dari dalam negeri. Tingginya kebutuhan valuta asing untuk kegiatan impor, pembayaran utang luar negeri, serta berbagai transaksi internasional membuat permintaan terhadap dolar AS terus meningkat.
Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menilai pasar masih mencermati sejumlah perkembangan ekonomi internasional yang berpotensi memengaruhi arus modal ke negara berkembang. Kondisi tersebut membuat pelaku pasar cenderung memilih instrumen investasi yang dianggap lebih aman, termasuk dolar AS.
Bank Indonesia sebelumnya telah melakukan berbagai langkah stabilisasi untuk menjaga nilai tukar rupiah. Upaya tersebut dilakukan melalui intervensi di pasar valuta asing, pasar obligasi, serta instrumen moneter lainnya guna meredam volatilitas yang berlebihan.
Pelemahan rupiah turut menjadi perhatian karena berpotensi berdampak pada berbagai sektor ekonomi. Nilai tukar yang melemah dapat meningkatkan biaya impor bahan baku dan barang konsumsi, yang pada akhirnya berpengaruh terhadap harga barang dan tingkat inflasi.
Di sisi lain, pelemahan rupiah juga dapat memberikan keuntungan bagi sektor yang berorientasi ekspor karena produk Indonesia menjadi lebih kompetitif di pasar internasional. Namun, manfaat tersebut tetap bergantung pada kondisi perdagangan global dan permintaan pasar.
Mengutip dari ANTARA, Kamis (4/6), pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi memperkirakan pergerakan rupiah masih akan berada dalam rentang Rp17.960 hingga Rp18.030 per dolar AS pada perdagangan berikutnya.
Pergerakan rupiah ke level Rp18.000 per dolar AS menjadi perhatian pelaku pasar dan masyarakat karena mencerminkan dinamika ekonomi global yang masih penuh ketidakpastian. Kondisi tersebut juga menjadi tantangan bagi pemerintah dan Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional.
- Penulis: Fathma Aulia Puteri


Saat ini belum ada komentar