Review Obsession: Teror Berawal dari Cinta yang Dipaksakan
- account_circle Muhammad Naufal Nurfikri
- calendar_month Rabu, 15 Jul 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Jakartahitz.com, Jakarta – Film Obsession menghadirkan kisah horor yang berbeda dari kebanyakan film sejenis. Sutradara Curry Barker membangun rasa takut melalui obsesi, manipulasi, dan hubungan yang tidak sehat, bukan sekadar mengandalkan jumpscare. Pendekatan tersebut membuat film ini terasa semakin mencekam dari awal hingga akhir.
Dilansir dari Detik.com, Obsession mengikuti kisah Bear, seorang pria yang memendam perasaan kepada sahabat masa kecilnya, Nikki. Karena terus terjebak dalam friendzone, Bear menggunakan benda mistis bernama One Wish Willow untuk membuat Nikki mencintainya. Keinginannya memang terwujud, tetapi situasi justru berubah menjadi mimpi buruk yang sulit dikendalikan.
Curry Barker memilih membangun ketegangan secara perlahan. Ia mengajak penonton mengikuti perubahan perilaku para karakter sebelum memperlihatkan teror yang semakin intens. Alur seperti itu membuat suasana film terasa tidak nyaman dan terus meningkatkan rasa cemas hingga menjelang akhir cerita.
Selain mengandalkan cerita, Obsession juga memanfaatkan lokasi yang sederhana untuk memperkuat atmosfer horor. Barker menyusun pencahayaan, musik, dan komposisi gambar secara efektif sehingga setiap adegan mampu menghadirkan tekanan psikologis. Hasilnya, film ini tetap tampil meyakinkan meski menggunakan anggaran produksi yang relatif kecil.
Kesuksesan Obsession juga menarik perhatian industri perfilman. Film dengan anggaran sekitar US$750 ribu itu berhasil meraih pendapatan lebih dari US$300 juta di box office global. Pencapaian tersebut menunjukkan bahwa cerita yang kuat dan penyutradaraan yang matang mampu menghasilkan film horor berkualitas tanpa memerlukan biaya produksi yang besar.
- Penulis: Muhammad Naufal Nurfikri


Saat ini belum ada komentar