Hanung Bramantyo Ungkap Alasan Pilih Horor untuk Lobang Buaya
- account_circle Muhammad Naufal Nurfikri
- calendar_month 6 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Jakartahitz.com, Jakarta – Hanung Bramantyo mengungkap alasan memilih genre horor untuk film Lobang Buaya: 309 Hari Sebelum Tragedi. Menurutnya, horor tidak hanya berkaitan dengan hantu atau jumpscare, tetapi juga dapat menghadirkan teror psikologis yang membuat penonton merasa tidak nyaman.
Hanung menyampaikan pandangan tersebut saat menghadiri kegiatan nonton bareng Lobang Buaya di Suncity Madiun XXI, Jawa Timur, Sabtu (3/10). Film tersebut sudah tayang di bioskop Indonesia sejak 1 Oktober 2026.
Hanung Bramantyo Melihat Horor sebagai Teror Psikologis
Bagi Hanung, kekuatan utama horor terletak pada kemampuan cerita untuk mengganggu pikiran penonton. Karena itu, Lobang Buaya tidak hanya mengandalkan kemunculan sosok menyeramkan untuk membangun ketegangan.
“Horor itu adalah psikologis. Teror yang menyerang psikologis kita, yang membuat kita stres, yang membuat kita enggak bisa tidur,” ujar Hanung.
Pendekatan tersebut menjadi dasar Hanung ketika membawa cerita Lobang Buaya ke layar lebar. Ia ingin membangun rasa takut melalui situasi dan konflik yang berkembang sepanjang cerita.
Latar waktu juga memiliki peran penting. Cerita film berlangsung pada 1964, satu tahun sebelum rangkaian peristiwa besar pada 1965. Desa Lobang Buaya kemudian menghadapi serangkaian pembunuhan misterius yang membuat masyarakat hidup dalam ketakutan.
Kisah Detektif Soegeng Mengungkap Pembunuhan
Baskara Mahendra memerankan Letnan Soegeng, tokoh yang mendapat tugas untuk menyelidiki pembunuhan misterius di Desa Lobang Buaya.
Kasus tersebut menjadi semakin rumit karena pembunuhan terjadi berulang kali. Soegeng harus mengumpulkan berbagai petunjuk untuk mencari orang di balik kematian para korban.
Selain unsur misteri, cerita juga memasukkan persoalan sosial yang terjadi di tengah masyarakat desa. Hanung menggambarkan sejumlah pihak yang memanfaatkan keadaan, mulai dari birokrat korup hingga rentenir dan kelompok yang berkepentingan terhadap sumber daya.
Situasi tersebut membuat penyelidikan Soegeng tidak hanya berhadapan dengan misteri pembunuhan. Ia juga harus memahami persoalan yang membuat masyarakat berada dalam kondisi penuh tekanan.
Film ini turut menghadirkan Mathias Muchus, Anya Zen, Carissa Perusset, dan Iskak Khivano. Lembaga Sensor Film memberikan klasifikasi Dewasa 17 Tahun dengan durasi 99 menit.
Lobang Buaya Hubungkan Horor dan Sejarah
Hanung memilih latar sejarah sebagai bagian dari cerita tanpa menjadikan Lobang Buaya sebagai film dokumenter. Cerita menggunakan unsur fiksi dan simbolisme untuk membangun misteri di sekitar pembunuhan yang terjadi di desa.
Sebelumnya, film tersebut mendapat kesempatan tampil di Bucheon International Fantastic Film Festival 2026 di Korea Selatan dan International Film Festival Rotterdam 2026 di Belanda. Setelah perjalanan festival tersebut, Lobang Buaya mulai menemui penonton Indonesia pada 1 Oktober.
Hanung berharap film ini juga dapat menjadi ruang bagi generasi muda untuk melihat sejarah secara lebih kritis. Ia menilai sebuah peristiwa sejarah dapat memiliki beragam perspektif berdasarkan cara cerita tersebut disusun dan diwariskan.
Lobang Buaya: 309 Hari Sebelum Tragedi kini sudah dapat disaksikan di bioskop Indonesia. Film ini menawarkan perpaduan horor, misteri investigasi, persoalan sosial, dan latar sejarah dalam satu cerita.
- Penulis: Muhammad Naufal Nurfikri


Saat ini belum ada komentar