Terobos Era Digital, Metode Microlearning Jadi Kunci Kuasai Keterampilan Masa Depan
- account_circle Alya Naura Maharani
- calendar_month Sabtu, 18 Jul 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak

Ketua Program Studi Teknologi Informasi, Dicky Haryanto
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Jakartahitz.com, Jakarta – Laju perkembangan teknologi digital yang masif terus mengubah cara masyarakat belajar dan mengasah kemampuan baru. Guna menjawab tuntutan industri yang dinamis, metode microlearning kini naik daun sebagai salah satu strategi paling efektif untuk menguasai future skills (keterampilan masa depan).
Microlearning sendiri merupakan konsep belajar modern yang mengemas materi ke dalam format singkat dan padat. Kontennya jamak tersaji dalam bentuk video pendek, infografis ringkas, kuis interaktif, maupun artikel esensial yang sangat fleksibel untuk diakses kapan saja dan di mana saja.
Pendekatan ini menjadi solusi jitu bagi kalangan pelajar hingga profesional yang memiliki mobilitas tinggi. Dengan memangkas durasi belajar menjadi lebih singkat, setiap individu bisa menyerap keahlian baru secara bertahap dan konsisten di sela-sela aktivitas utama mereka.
Jembatan Kebutuhan Teknis dan Karakter Non-Teknis
Kebutuhan industri terhadap future skills kini memang meroket tajam. Keterampilan ini mencakup kemampuan teknis tingkat tinggi seperti coding, data analytics, dan artificial intelligence (AI), yang wajib berpadu seimbang dengan kecakapan nonteknis seperti berpikir kritis, pemecahan masalah, komunikasi, serta daya adaptasi.
Ketua Program Studi (Prodi) Teknologi Informasi Cyber University, Dicky Haryanto, menegaskan bahwa penguasaan keahlian masa depan menjadi harga mati bagi generasi muda sebelum terjun ke industri digital.
“Perubahan teknologi terjadi sangat cepat. Karena itu, mahasiswa perlu memiliki kebiasaan belajar yang berkelanjutan agar mampu mengikuti perkembangan industri. Microlearning menjadi salah satu metode yang efektif karena memungkinkan proses belajar yang lebih fleksibel, fokus, dan sesuai kebutuhan,” ungkap Dicky di Jakarta, Jumat (17/7).
Menurut Dicky, skema belajar berbasis modul ringkas ini sangat membantu mahasiswa melahap kompetensi anyar secara efisien tanpa harus bergantung pada program pelatihan jangka panjang. “Kombinasi kemampuan teknis dan nonteknis menjadi bekal utama untuk menghadapi tantangan dunia kerja masa depan,” tambahnya.
Dituntut Konsisten dan Cetak Calon Pemimpin Digital
Kendati menawarkan efisiensi tinggi, penerapan microlearning secara mandiri tetap memiliki tantangan tersendiri. Pengelola program dituntut jeli dalam menjaga kualitas konten, merangsang konsistensi belajar pengguna, hingga mengukur efektivitas materi agar memberikan dampak nyata bagi pengembangan kompetensi.
Sebagai kampus yang mengusung visi Shaping Digital Future Leader, Cyber University merespons tantangan ini dengan terus mendongkrak kapasitas mahasiswa lewat Prodi Teknologi Informasi. Kurikulum kampus berfokus penuh pada penguasaan sistem informasi, data analytics, AI, dan manajemen teknologi digital.
Mereka menerapkan sistem kurikulum berbasis proyek praktis yang kawin silang dengan kebutuhan nyata dunia kerja. Bahkan, Cyber University menggebrak lewat skema inovatif Company Learning Program (CLP) 3+1, di mana mahasiswa cukup menempuh kuliah teori selama 3 tahun dan menghabiskan 1 tahun sisanya untuk magang langsung di industri.
“Tujuan kami adalah mencetak talenta digital yang tidak hanya menguasai teknologi, tetapi juga mampu berinovasi dan beradaptasi dengan perubahan global,” pungkas Dicky optimis.
Ke depan, integrasi kecerdasan buatan (AI) dan analitik data diprediksi bakal membuat metode microlearning jauh lebih personal, adaptif, serta semakin masif diandalkan dalam melahirkan SDM unggul di era transformasi digital.
- Penulis: Alya Naura Maharani


Saat ini belum ada komentar