Mahasiswa Ini Ceritakan Belajar Hadapi Rasa Tertinggal Saat Kuliah, Pasti Relate dengan Kamu
- account_circle Redaksi
- calendar_month Senin, 25 Mei 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Jakartahitz.com, Kawarang – Perasaan tertinggal di masa kuliah menjadi pengalaman yang kerap dirasakan mahasiswa, terutama di tengah tingginya paparan media sosial dan pencapaian teman sebaya. Fenomena ini juga dirasakan sejumlah mahasiswa Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) kampus Karawang yang tengah beradaptasi dengan lingkungan dan proses pengembangan diri di dunia perkuliahan.
Masa kuliah sering dianggap sebagai fase penuh pengalaman baru, mulai dari organisasi, kompetisi, hingga persiapan karier. Namun, tidak sedikit mahasiswa yang merasa belum memiliki arah ketika melihat teman-temannya sudah aktif mengikuti berbagai kegiatan atau memiliki pengalaman kerja sejak awal semester.
“Aku kadang ngerasa semua orang udah punya arah. Ada yang udah kerja freelance, ikut lomba, aktif organisasi. Sedangkan aku masih bingung mau fokus ke mana,” ujar mahasiswa semester 2 UBSI kampus Karawang, Dannish Dinda, Senin (25/5).
Perasaan tersebut dinilai semakin mudah muncul di era media sosial. Aktivitas seperti scrolling pencapaian teman kuliah, sertifikat, hingga kabar diterima magang tanpa disadari membuat sebagian mahasiswa mulai membandingkan perkembangan dirinya dengan orang lain.
Fenomena ini umum terjadi pada mahasiswa usia 18 hingga 25 tahun. Tekanan sosial dan ekspektasi untuk selalu terlihat produktif menjadi salah satu faktor yang memicu rasa insecure di lingkungan kampus.
Di UBSI Kampus Karawang sendiri, mahasiswa berasal dari latar belakang yang beragam. Ada yang langsung melanjutkan kuliah setelah lulus sekolah, ada yang sambil bekerja, hingga ada yang baru mulai aktif mengembangkan keterampilan saat memasuki dunia perkuliahan.
Mahasiswa Sistem Informasi UBSI kampus Karawang, Rizky Nur Rohman, mengaku sempat merasa minder ketika melihat kemampuan teman-temannya. Namun, keterlibatannya dalam kegiatan kampus perlahan membantu dirinya lebih percaya diri.
“Aku dulu minder banget karena teman-teman udah punya skill macam-macam. Tapi pas mulai ikut kepanitiaan kampus, ternyata aku jadi lebih pede ngobrol dan kerja bareng orang lain,” kata Rizky.
Lingkungan kampus dinilai memiliki peran penting dalam mendukung proses perkembangan mahasiswa. Suasana yang suportif dapat membantu mahasiswa lebih berani mencoba hal baru tanpa merasa takut dibandingkan dengan pencapaian orang lain.
Mahasiswa juga didorong untuk mulai mencari pengalaman sesuai minat masing-masing, baik melalui organisasi, webinar, komunitas, magang, maupun pengembangan keterampilan secara bertahap. Proses tersebut dinilai lebih penting dibandingkan keinginan untuk terlihat berhasil dalam waktu singkat.
Pada akhirnya, masa kuliah dipandang bukan sebagai perlombaan untuk menjadi yang paling cepat sukses. Setiap mahasiswa memiliki proses, tantangan, dan waktu bertumbuh yang berbeda dalam menemukan arah serta potensinya masing-masing.
- Penulis: Redaksi


Saat ini belum ada komentar