Universitas Nusa Mandiri Ajak Mahasiswa Jadikan Akademik Perpustakaan sebagai Gaya Hidup
- account_circle Redaksi
- calendar_month Sabtu, 27 Jun 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Jakartahitz.com, Jakarta – Di tengah padatnya jadwal kuliah, tumpukan tugas, hingga aktivitas organisasi yang tak pernah berhenti, mahasiswa kerap dituntut untuk terus produktif dan adaptif. Namun, di balik kesibukan tersebut, ada satu ruang di lingkungan kampus yang kini semakin relevan sebagai tempat untuk menenangkan pikiran sekaligus meningkatkan kualitas belajar, yakni perpustakaan.
Universitas Nusa Mandiri (UNM) sebagai Kampus Digital Bisnis memandang perpustakaan modern bukan lagi sekadar tempat menyimpan koleksi buku, melainkan ruang kolaborasi, eksplorasi ide, dan pengembangan diri yang mendukung kesehatan mental serta produktivitas akademik mahasiswa.
Perpustakaan sebagai Gaya Hidup
Konsep The Third Place yang diperkenalkan oleh sosiolog Ray Oldenburg menjadi semakin relevan di lingkungan perguruan tinggi. Setelah rumah sebagai tempat tinggal dan ruang kelas sebagai tempat belajar formal, mahasiswa membutuhkan ruang ketiga yang nyaman, netral, dan inspiratif untuk beristirahat sejenak, berpikir lebih jernih, atau berdiskusi secara santai. Perpustakaan hadir sebagai ruang yang mampu memenuhi kebutuhan tersebut.
Di era digital yang dipenuhi notifikasi, media sosial, dan arus informasi tanpa henti, perpustakaan menawarkan suasana yang lebih tenang untuk membaca, menelusuri jurnal ilmiah, mengerjakan tugas, hingga sekadar menikmati waktu tanpa distraksi. Aktivitas sederhana seperti membaca buku fisik atau mengeksplorasi repositori digital dapat membantu mahasiswa meningkatkan fokus, melatih kemampuan berpikir kritis, sekaligus mengurangi kelelahan akibat paparan layar gawai yang berkepanjangan.
Lebih dari itu, perpustakaan juga menjadi ruang yang inklusif. Mahasiswa baru, mahasiswa tingkat akhir, dosen, maupun peneliti dapat bertemu dalam lingkungan yang sama dengan tujuan membangun pengetahuan dan melahirkan gagasan-gagasan baru. Tidak sedikit ide penelitian, inovasi bisnis, maupun solusi atas berbagai persoalan akademik lahir dari diskusi atau proses belajar mandiri di perpustakaan.
Pustakawan Universitas Nusa Mandiri, Dio Andre Nusa, mengatakan bahwa perpustakaan saat ini telah bertransformasi menjadi pusat pembelajaran yang mendukung kebutuhan mahasiswa di era digital.
“Perpustakaan bukan lagi hanya identik dengan rak buku dan suasana sunyi. Saat ini perpustakaan merupakan ruang belajar yang lebih terbuka, nyaman, dan adaptif terhadap kebutuhan mahasiswa. Kami ingin menghadirkan lingkungan yang mendorong mahasiswa untuk membaca, berdiskusi, berkolaborasi, hingga menemukan inspirasi untuk menghasilkan karya dan inovasi,” ujarnya dalam rilis yang diterima, pada Sabtu (27/6).
Menurutnya, sebagai Universitas Nusa Mandiri yang dikenal sebagai Kampus Digital Bisnis, UNM terus mengembangkan layanan perpustakaan yang mengintegrasikan koleksi cetak, sumber referensi digital, serta berbagai fasilitas pendukung agar mahasiswa dapat belajar secara lebih fleksibel dan efektif.
“Kami berharap mahasiswa tidak datang ke perpustakaan hanya ketika ada tugas atau mencari referensi skripsi. Jadikan perpustakaan sebagai bagian dari gaya hidup akademik, tempat untuk mengembangkan literasi, memperluas wawasan, menjaga kesehatan mental, sekaligus membangun kreativitas. Di ruang yang tenang inilah sering kali lahir ide-ide besar yang mampu mengubah masa depan,” tambahnya.
Melalui penguatan fungsi perpustakaan, ungkapnya, Universitas Nusa Mandiri sebagai Kampus Digital Bisnis terus berkomitmen menghadirkan ekosistem pembelajaran yang inovatif, inklusif, dan berorientasi pada pengembangan kompetensi mahasiswa.
“Perpustakaan bukan sekadar fasilitas penunjang akademik, tetapi menjadi ruang inspirasi yang mendukung lahirnya generasi pembelajar, inovator, dan profesional yang siap menghadapi tantangan di era digital,” tutupnya.
- Penulis: Redaksi


Saat ini belum ada komentar