Erupsi Anak Krakatau Berlangsung Singkat, Abu Disebut Hanya di Sekitar Gunung
- account_circle Fathma Aulia Puteri
- calendar_month Kamis, 10 Sep 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak

Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda. Arah sebaran abu vulkanik gunung tersebut terus dipantau seiring aktivitas erupsi. Foto: Dok. Setkab RI.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Jakartahitz.com, Jakarta – Gunung Anak Krakatau kembali mengalami erupsi. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menyebut letusan tersebut berlangsung hanya beberapa detik dengan sebaran abu vulkanik yang masih berada di sekitar gunung.
Dilansir dari detikNews, Kamis (10/9/2026), Kepala PVMBG Siti Sumilah Rita Susilawati menjelaskan kondisi erupsi Gunung Anak Krakatau dalam keterangan yang disampaikan kepada media. Erupsi tersebut tercatat sebagai bagian dari aktivitas gunung api yang saat ini masih berstatus Level III atau Siaga.
PVMBG menyebut aktivitas Gunung Anak Krakatau masih bersifat fluktuatif. Sebelumnya, gunung yang berada di Selat Sunda tersebut telah ditetapkan berstatus Siaga sejak 2 Juli 2026.
Kepala PVMBG Rita Susilawati menjelaskan erupsi Anak Krakatau memiliki karakteristik tertentu. Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani sebelumnya menyebut erupsi yang terjadi merupakan tipe Strombolian, yakni erupsi eksplosif ringan yang berkaitan dengan magma cair dan tekanan gas sedang.
“Jadi untuk letusan Gunung Anak Krakatau ini jenisnya strombolian akibat magma cair dengan tekanan gas sedang,” kata Teuku dalam konferensi pers daring, Minggu (6/9/2026).
Dalam perkembangan aktivitasnya, abu vulkanik Gunung Anak Krakatau sempat terpantau menyebar di atmosfer menuju sejumlah wilayah. Badan Geologi Kementerian ESDM menyebut sebaran abu terpantau menuju Banten, sebagian Jawa Barat, DKI Jakarta, Lampung hingga Bengkulu.
Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM Lana Saria mengatakan informasi tersebut diperoleh dari gabungan data erupsi dan Volcano Observatory Notice for Aviation (VONA) dari PVMBG melalui Magma Indonesia, informasi VAAC Darwin, serta analisis citra satelit Himawari-9 milik BMKG.
“Dan berdasarkan gabungan informasi erupsi dan VONA dari PVMBG melalui Magma Indonesia, informasi VAAC Darwin serta analisa citra satelit Himawari-9 oleh BMKG, bahwa abu vulkanik Gunung Anak Krakatau terpantau menyebar di atmosfer ke arah Banten, sebagian Jawa Barat, dan juga DKI Jakarta, serta Lampung dan Bengkulu,” ujar Lana.
Meski abu sempat terpantau menyebar di atmosfer, kondisi tersebut perlu dibedakan dengan material erupsi yang berada di permukaan. PVMBG dan Badan Geologi terus melakukan pemantauan terhadap arah serta ketinggian sebaran abu berdasarkan kondisi atmosfer.
Aktivitas Gunung Anak Krakatau juga sempat menimbulkan suara dentuman dan getaran yang dirasakan hingga wilayah yang cukup jauh. PVMBG menjelaskan energi akustik dari erupsi tertentu dapat merambat hingga ratusan kilometer, tergantung kondisi atmosfer.
Erupsi Anak Krakatau sebelumnya juga berdampak pada aktivitas penerbangan. BNPB mencatat sejumlah bandara sempat ditutup sementara sebagai langkah keselamatan akibat sebaran abu vulkanik di ruang udara. Bandara yang terdampak antara lain Soekarno-Hatta, Halim Perdanakusuma, Radin Inten II Lampung, dan Budiarto Curug.
Masyarakat di sekitar kawasan Gunung Anak Krakatau tetap diminta mengikuti informasi resmi dari PVMBG dan Badan Geologi. Sesuai rekomendasi yang berlaku, masyarakat dilarang mendekati kawah aktif dalam radius 3 kilometer.
Warga yang berada di wilayah yang berpotensi terkena abu vulkanik juga dianjurkan menggunakan masker dan pelindung mata ketika beraktivitas di luar ruangan. Masyarakat diminta tetap tenang dan tidak menyebarkan informasi mengenai erupsi yang belum terverifikasi.
- Penulis: Fathma Aulia Puteri


Saat ini belum ada komentar