Gas SO2 Anak Krakatau Terdeteksi Meluas, BMKG Minta Warga Tak Panik
- account_circle Fathma Aulia Puteri
- calendar_month Senin, 7 Sep 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak

Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda. Meski aktivitas erupsi sempat berhenti, gunung masih berstatus Level III atau Siaga dan warga diminta menjauhi radius 3 kilometer dari kawah aktif. Foto: Instagram @ade.irwn21/RMOL Lampung.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Jakartahitz.com, Jakarta – Sebaran sulfur dioksida (SO₂) dari aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau menjadi perhatian setelah peta satelit yang beredar di media sosial menunjukkan area berwarna merah hingga sejumlah wilayah di Pulau Jawa. Namun, BMKG menegaskan luas sebaran gas di atmosfer tidak otomatis menunjukkan bahwa udara yang dihirup masyarakat di permukaan berada dalam kondisi berbahaya.
Dilansir dari detikNews, BMKG membenarkan bahwa SO₂ dari erupsi Gunung Anak Krakatau memang terdeteksi menyebar hingga jarak ratusan kilometer. Namun, masyarakat diminta tidak menilai tingkat bahaya hanya berdasarkan warna pada peta satelit yang beredar.
BMKG melalui akun resmi @infoBMKG menjelaskan bahwa warna merah pada peta satelit menggambarkan keberadaan kolom gas di atmosfer, bukan secara langsung menunjukkan tingkat pencemaran udara yang dirasakan masyarakat di permukaan.
“Sebaran gas SO2 memang benar dan meluas, itu fakta dari citra satelit. Tapi luasnya sebaran di peta atmosfer tidak sama dengan tingkat bahaya yang benar-benar dirasakan warga di permukaan tanah,” jelas BMKG.
Menurut BMKG, untuk mengetahui apakah udara yang dihirup masyarakat berbahaya atau tidak, patokan yang digunakan adalah angka kualitas udara resmi dari pemerintah. Bukan warna merah yang terlihat pada peta sebaran atmosfer.
BMKG juga menjelaskan bahwa SO₂ yang bergerak hingga ratusan kilometer mengalami perubahan selama berada di atmosfer. Setelah bereaksi dengan oksigen dan uap air, sebagian gas tersebut berubah menjadi partikel halus berupa aerosol sulfat.
Karena itu, partikel yang mencapai permukaan di wilayah yang jauh dari Gunung Anak Krakatau tidak sama dengan gas SO₂ murni dan pekat yang berada di sekitar kawah. Di kawasan Jabodetabek, misalnya, BMKG menyebut partikel yang dominan sampai ke permukaan merupakan campuran abu vulkanik dengan sebagian kecil partikel hasil perubahan SO₂.
“Karena itu, saat ini yang dominan sampai ke permukaan dan dirasakan warga Jabodetabek adalah abu vulkanik bercampur sebagian kecil partikel hasil perubahan gas SO2 tersebut. Bukan gas SO2 murni dan pekat seperti yang ada tepat di sekitar kawah,” ujar BMKG.
BMKG menyatakan masyarakat masih dapat beraktivitas normal apabila kualitas udara di permukaan berada pada kategori baik atau sedang. Meski demikian, warga tetap dianjurkan menggunakan masker dan kacamata pelindung ketika berada di luar ruangan, terutama saat terjadi hujan abu atau kualitas udara menunjukkan kondisi tidak sehat.
Warga juga diminta menutup pintu, jendela, serta ventilasi rumah untuk mengurangi masuknya abu. Jika abu menempel di kendaraan, halaman, atau atap, pembersihan sebaiknya dilakukan dengan menyiram air terlebih dahulu dan tidak menyapu dalam kondisi kering agar partikel halus tidak kembali beterbangan.
Sementara itu, Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Siti Sumilah Rita Susilawati membenarkan bahwa erupsi Gunung Anak Krakatau menghasilkan emisi SO₂ yang terdeteksi oleh satelit. Namun, ia menegaskan keberadaan gas tersebut di citra satelit belum cukup untuk menyimpulkan bahwa SO₂ telah mencapai permukaan dan membahayakan masyarakat.
“Erupsi Gunung Anak Krakatau memang mengemisikan SO₂ dan emisinya terdeteksi oleh satelit. Namun, klaim bahwa gas SO₂ dari Anak Krakatau telah mencapai permukaan dan membahayakan masyarakat belum dapat dibenarkan berdasarkan citra tersebut saja. Diperlukan pengukuran kualitas udara di permukaan untuk memastikannya,” kata Rita.
Rita juga meminta masyarakat tidak panik. Menurutnya, masyarakat dapat tetap beraktivitas seperti biasa selama tidak mengalami keluhan pernapasan, sembari mengikuti perkembangan informasi dari Badan Geologi, KLH/BPLH, dan pemerintah daerah.
Di tengah aktivitas erupsi, BMKG terus melakukan pemantauan terhadap sebaran abu dan kondisi atmosfer. Dalam pemantauan 6 September 2026, BMKG menemukan dua klaster sebaran abu vulkanik yang meliputi Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat hingga Bengkulu.
BMKG juga menerbitkan peringatan penerbangan atau SIGMET secara berkala. Pada pemantauan tersebut, abu vulkanik terdeteksi bergerak hingga ketinggian 20.000 kaki ke arah timur dan hingga 50.000 kaki ke arah barat. Kondisi inilah yang turut memengaruhi keselamatan penerbangan dan menyebabkan sejumlah bandara ditutup sementara.
Dengan kondisi tersebut, masyarakat diminta tidak mudah percaya terhadap tangkapan layar atau informasi sebaran SO₂ yang beredar di media sosial. Informasi mengenai kualitas udara sebaiknya diperiksa melalui kanal resmi pemerintah agar masyarakat tidak salah mengambil kesimpulan dan tetap dapat melakukan langkah perlindungan yang sesuai.
- Penulis: Fathma Aulia Puteri


Saat ini belum ada komentar