ISPA di Pandeglang Tembus 2.107 Kasus Setelah Abu Anak Krakatau
- account_circle Fathma Aulia Puteri
- calendar_month Rabu, 9 Sep 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak

Gunung Anak Krakatau yang masih mengalami aktivitas erupsi. Badan Geologi menyebut erupsi menerus telah berakhir, tetapi aktivitas Strombolian masih berlangsung. Foto: Wikimedia Commons/Lord Mountbatten.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Jakartahitz.com, Jakarta – Kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di Kabupaten Pandeglang, Banten, mengalami peningkatan setelah wilayah tersebut terdampak sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau. Dinas Kesehatan Pandeglang mencatat sebanyak 2.107 orang terjangkit ISPA hingga pekan ke-35 tahun ini.
Dilansir dari detikNews, Kepala Dinas Kesehatan Pandeglang Eni Yati mengatakan jumlah tersebut tercatat pada pekan ke-35. Angka itu meningkat setelah abu vulkanik turun di sejumlah wilayah Pandeglang selama dua hari pada akhir pekan lalu.
“Nah, kalau sekarang berjalan adalah minggu ke-35, ada 2.107,” kata Eni kepada wartawan, Rabu (9/9/2026).
Eni menjelaskan, pada pekan ke-35 sebelumnya tercatat 1.861 kasus ISPA. Peningkatan terjadi setelah hujan abu vulkanik melanda Pandeglang pada Sabtu dan Minggu.
Menurut Eni, hujan abu vulkanik masih terjadi hingga saat ini meski intensitasnya sudah menurun dibandingkan akhir pekan lalu. Dinas Kesehatan Pandeglang akan kembali melakukan pendataan untuk mengetahui perkembangan jumlah kasus pada pekan berikutnya.
“Kalau yang minggu ke-35 terdampaknya hanya dua hari, Sabtu-Minggu. Senin depan nanti dilaporkan,” ujar Eni.
Kelompok anak-anak menjadi salah satu kelompok yang paling banyak mengalami keluhan ISPA. Meski demikian, paparan abu vulkanik juga dapat berdampak kepada orang dewasa dan lansia.
“Dewasa juga ada, lansia juga ada, tapi sebagian besar anak-anak,” kata Eni.
Sebelumnya, warga di sejumlah wilayah Pandeglang memang mulai mendatangi fasilitas kesehatan setelah abu vulkanik Gunung Anak Krakatau menyebar. Di Kecamatan Labuan, misalnya, Puskesmas setempat mencatat 51 warga mengalami ISPA dan empat orang mengalami diare pada Selasa (8/9/2026).
Salah seorang warga, Yuliani, mengaku mengalami gangguan pernapasan setelah terpapar abu vulkanik. Ia merasakan hidung sesak, sakit tenggorokan hingga kehilangan suara.
“Ke dalam hidung sesak, sakit tenggorokan sampai suara hilang,” ujar Yuliani saat ditemui di Pandeglang.
Eni mengatakan peningkatan kasus ISPA tidak semata-mata disebabkan oleh abu vulkanik. Menurutnya, pencemaran udara dan infeksi virus juga dapat menjadi faktor yang memicu penyakit tersebut.
“Karena pencemaran udara bisa, karena virus bisa, dan ISPA penyakit 10 terbesar di puskesmas,” kata Eni.
Untuk mengurangi risiko paparan, masyarakat Pandeglang diminta tetap menggunakan masker, terutama ketika harus beraktivitas di luar rumah. Warga juga dianjurkan menjaga kondisi kesehatan dan segera memeriksakan diri apabila mengalami gangguan pernapasan.
Peningkatan kasus ISPA ini terjadi di tengah aktivitas Gunung Anak Krakatau yang masih menjadi perhatian pemerintah. Sebaran abu vulkanik sebelumnya juga berdampak terhadap aktivitas masyarakat, penerbangan, serta kegiatan sekolah di sejumlah wilayah.
- Penulis: Fathma Aulia Puteri


Saat ini belum ada komentar