Hasil Lab Ungkap Tiga Bakteri di Menu MBG Berastagi, Ini Temuannya
- account_circle Fathma Aulia Puteri
- calendar_month Kamis, 10 Sep 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak

Petugas ambulans mengevakuasi siswa yang diduga mengalami keracunan setelah menyantap makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Berastagi, Kabupaten Karo, Sumatera Utara. Foto: Waspada.id/Micky Maliki.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Jakartahitz.com, Jakarta – Kasus keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dialami ratusan siswa di Berastagi, Kabupaten Karo, Sumatera Utara, kembali menjadi sorotan. Hasil pemeriksaan laboratorium menemukan tiga jenis bakteri patogen pada sejumlah sampel makanan yang dikonsumsi para siswa.
Dilansir dari Kompas.com, hasil pemeriksaan UPTD Laboratorium Kesehatan Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara menemukan Bacillus cereus, Staphylococcus aureus, dan Escherichia coli (E. coli) dalam sampel makanan MBG. Kasus tersebut sebelumnya menyebabkan ratusan siswa mengalami gejala keracunan setelah menyantap makanan program MBG.
Berdasarkan hasil uji laboratorium bernomor 008.2/4129/UPTD LABKES/VIII/2026 tertanggal 16 Agustus 2026, bakteri Bacillus cereus ditemukan pada sampel nasi yang diambil dari sekolah. Sementara Staphylococcus aureus ditemukan pada sampel ikan dencis dengan saus. Adapun E. coli terdeteksi pada sampel buah melon.
Temuan tersebut juga diperkuat dengan adanya Staphylococcus aureus pada sampel sisa muntahan salah satu korban bernama Mutiara. Namun, hasil pemeriksaan laboratorium tidak serta-merta dapat dijadikan kesimpulan tunggal bahwa seluruh bakteri tersebut menjadi penyebab keracunan. Hubungan antara temuan bakteri dan kondisi korban masih perlu dicocokkan dengan gejala klinis, waktu munculnya gejala, serta konsentrasi bakteri maupun toksin.
Menariknya, sampel makanan yang diambil langsung dari dapur pengolahan atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) justru tercatat negatif dari bakteri patogen yang diuji. Sampel tersebut meliputi nasi, ikan, sayur, tahu, dan melon.
Kondisi itu mengindikasikan kemungkinan adanya kontaminasi setelah makanan meninggalkan dapur. Dugaan tersebut dapat berkaitan dengan proses pengangkutan, penyimpanan sementara di sekolah, hingga penanganan dan penyajian makanan sebelum dikonsumsi siswa.
Hasil pemeriksaan tersebut sebelumnya dipaparkan Dinas Kesehatan Sumatera Utara dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) di DPRD Kabupaten Karo pada Senin (7/9/2026). Pemaparan hasil laboratorium itu kemudian memicu protes dari sejumlah orang tua korban yang mempertanyakan mengapa hasil pemeriksaan baru disampaikan dalam forum tersebut.
Selain persoalan transparansi hasil pemeriksaan, orang tua korban juga meminta adanya kepastian terkait penanganan kesehatan anak-anak yang terdampak serta evaluasi terhadap pelaksanaan program MBG di wilayah tersebut.
Secara medis, edukator kesehatan dr. Adam Prabata menjelaskan bahwa Bacillus cereus dapat berkembang pada makanan yang terlalu lama berada pada suhu ruang. Bakteri tersebut dapat menyebabkan mual, muntah, diare hingga kram perut. Dalam kondisi tertentu, toksinnya bahkan dapat menimbulkan komplikasi berat.
Sementara Staphylococcus aureus dapat menghasilkan racun pada makanan yang dibiarkan dalam kondisi tertentu. Paparan racun tersebut dapat memicu mual, muntah, diare, kram perut hingga demam.
Untuk E. coli, keberadaannya pada makanan menjadi indikator adanya persoalan higienitas. Beberapa jenis E. coli tertentu dapat menyebabkan infeksi serius dan komplikasi seperti gagal ginjal akut. Meski demikian, dr. Adam kembali menegaskan bahwa temuan bakteri pada makanan tetap perlu dikaitkan dengan kondisi medis korban sebelum menentukan hubungan sebab-akibat secara pasti.
- Penulis: Fathma Aulia Puteri


Saat ini belum ada komentar