Tim EcoCandle.an UNM Olah Minyak Jelantah Jadi Lilin Aromaterapi di PKP2 2026
- account_circle Redaksi
- calendar_month Jumat, 18 Sep 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Jakartahitz.com, Jakarta — Tim Program Kreativitas Mahasiswa bidang Kewirausahaan (PKM-K) EcoCandle.an dari Universitas Nusa Mandiri (UNM) sukses menuntaskan Penilaian Kemajuan Pelaksanaan (PKP2) pada Senin (14/9). Tahapan evaluasi nasional ini dilaksanakan untuk meninjau perkembangan usaha, capaian luaran, serta kesiapan produk sebelum melangkah ke fase berikutnya.
Tim yang diketuai Nabila Putri Aulia bersama Aliyah Dwi Puspita, Nurrohmah Wati, dan Athirah Arumi ini mengembangkan inovasi lilin aromaterapi berbahan dasar limbah minyak jelantah. UNM sebagai Kampus Digital Bisnis mendukung penuh pengolahan limbah rumah tangga tersebut menjadi produk kreatif yang memiliki nilai ekonomi dan estetika tinggi.
Baca juga:Prodi Informatika UNM Gelar Workshop Penguatan Kompetensi Cloud Computing dan Keamanan Siber
Tim EcoCandle.an UNM Olah Minyak Jelantah Jadi Lilin Aromaterapi
Sebelum memasuki tahap PKP2, tim telah melalui serangkaian proses produksi mulai dari penyaringan minyak jelantah, formulasi bahan baku, hingga uji coba pasar di ajang Car Free Day (CFD) Depok. Aktivitas riset dan pemasaran ini menjadi bentuk implementasi langsung ilmu Bisnis Digital di lapangan.
Ketua Tim PKM-K EcoCandle.an, Nabila Putri Aulia, menyampaikan bahwa masukan dari tim penilai PKP2 menjadi modal penting untuk menyempurnakan kualitas produk dan strategi pemasaran.
“PKP2 menjadi kesempatan bagi kami untuk mengevaluasi perjalanan EcoCandle.an, mulai dari proses pengembangan produk hingga pengenalan kepada masyarakat. Kami akan menjadikan setiap masukan sebagai bahan perbaikan agar EcoCandle.an dapat terus berkembang dan mempersiapkan diri menuju PIMNAS 2026,” ujar Nabila.
Dosen Pendamping PKM-K, Johan Hendri Prasetyo, mengapresiasi konsistensi mahasiswa bimbingannya. Ia menekankan pentingnya penguatan value proposition dan strategi bisnis secara berkelanjutan pascaevaluasi.
“Membangun sebuah usaha membutuhkan proses, ketelitian, dan evaluasi yang berkelanjutan. Setelah PKP2, tim perlu fokus pada penyempurnaan produk, penguatan value proposition, serta peningkatan kualitas dokumentasi menuju PIMNAS 2026,” jelas Johan.
Dukungan juga disampaikan oleh Ketua Program Studi Bisnis Digital UNM, Lia Mazia. Ia mengaku bangga atas kemampuan mahasiswa mengawinkan kepedulian lingkungan dengan peluang bisnis digital.
Baca juga:Tim UNM Paparkan Inovasi Game MEMORion+ untuk Anak ADHD di PKP2 2026
“Inovasi pemanfaatan minyak jelantah menjadi lilin aromaterapi menunjukkan bahwa mahasiswa dapat mengintegrasikan kreativitas, kewirausahaan, dan kepedulian terhadap lingkungan. Kami berharap Tim EcoCandle.an konsisten melakukan evaluasi untuk memberikan kontribusi terbaik bagi UNM,” katanya dalam rilisi yang diterima, pada Jumat (18/9).
Keberhasilan menuntaskan PKP2 menjadi pijakan penting bagi Tim EcoCandle.an untuk terus mematangkan validasi pasar dan kualitas produk. Melalui kolaborasi ini, mahasiswa UNM membuktikan bahwa inovasi berbasis lingkungan dapat menjadi peluang usaha bernilai tambah yang siap bersaing di PIMNAS 2026.
- Penulis: Redaksi


Saat ini belum ada komentar