Tim SAR Hadapi Abu Vulkanik Saat Cari 5 Jurnalis di Krakatau
- account_circle Fathma Aulia Puteri
- calendar_month Rabu, 16 Sep 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak

Tim Basarnas melakukan operasi pencarian lima jurnalis dan tiga awak kapal yang hilang di perairan Selat Sunda. Foto: PFI for jatimnow.com.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Jakartahitz.com, Jakarta – Operasi pencarian lima jurnalis dan tiga orang lainnya yang hilang di perairan Selat Sunda tidak hanya menghadapkan tim SAR pada kondisi laut. Petugas juga harus berhadapan dengan abu vulkanik dan medan berbahaya di sekitar Gunung Anak Krakatau.
Salah satu anggota Basarnas Banten, Vicky Meidy Priana, menceritakan pengalaman selama terlibat dalam operasi pencarian tersebut. Ia menjadi bagian dari tim yang bergerak sejak laporan hilang kontak diterima pada Senin (7/9/2026).
Dilansir dari Liputan6.com, Vicky mengaku selalu memiliki kekhawatiran ketika menjalankan operasi SAR, terutama karena kondisi di lapangan dapat berubah sewaktu-waktu. Menurutnya, risiko terbesar bagi seorang rescuer adalah tidak bisa kembali ke rumah setelah menjalankan tugas.
“Khawatirnya, saya pada saat operasi SAR saya tidak bisa kembali ke rumah,” ujar Vicky kepada Liputan6.com, Selasa (15/9/2026).
Pencarian dimulai setelah tim menerima laporan mengenai rombongan yang tidak lagi dapat dihubungi. Unit Siaga SAR Pandeglang menjadi tim pertama yang bergerak. Basarnas Banten kemudian mengerahkan RIB 02 menuju lokasi yang diduga menjadi titik terakhir hilang kontak.
Pada hari kedua hingga hari keempat, kondisi cuaca di sekitar Carita, Gunung Anak Krakatau, dan Selat Sunda relatif cerah berawan. Namun, abu vulkanik dari aktivitas Gunung Anak Krakatau masih menyelimuti kawasan tersebut. Kondisi itu membuat tim tetap harus memperhitungkan keselamatan ketika melakukan penyisiran.
Tantangan lebih berat dirasakan Vicky pada Jumat (11/9/2026). Saat itu, ia bersama tim melakukan penyisiran di Pulau Sertung yang berada di sekitar Gunung Anak Krakatau dan termasuk kawasan zona merah.
Sesampainya di lokasi, tim menemukan hamparan abu vulkanik. Petugas pun harus memperhatikan setiap langkah agar tidak mengalami hal yang membahayakan.
“Kalau misalkan kita tidak tidak peka atau tidak melek-melek sedikit di pulau itu akan berakibat fatal,” kata Vicky.
Meski berada di kawasan dengan aktivitas vulkanik, kondisi laut ketika itu relatif landai. Tinggi gelombang selama pencarian berada di kisaran 0,5 hingga 2 meter. Tim tetap menjalankan operasi dengan hati-hati dan mengikuti prosedur keselamatan.
Vicky sendiri sudah mengenal dunia pencarian dan pertolongan sejak 2012, ketika masih duduk di bangku SMA. Ia kemudian bergabung dengan Basarnas pada 2020. Selama menjadi rescuer, ia terlibat dalam sejumlah operasi, termasuk penanganan banjir Garut pada 2016, bencana di Sumatera Barat pada 2025, serta operasi penyelamatan kapal nelayan yang terbalik di Selat Sunda.
Pengalaman tersebut membuat Vicky memahami bahwa tugas seorang rescuer tidak hanya membutuhkan kesiapan fisik. Kondisi mental juga menjadi bagian penting karena petugas dapat berhadapan dengan situasi yang berat dan traumatis.
Ia mengenang salah satu operasi di Sumatera Barat ketika tim menemukan beberapa korban dalam satu hari. Situasi tersebut membuat keluarga korban histeris dan ikut memengaruhi kondisi mental petugas.
“Dapat korban, satu hari dapat lima, itu keluarga korban sudah histeris. Ya mungkin ya namanya manusia, mental pun pasti bakal kena,” jelas Vicky.
Bagi Vicky, menjadi rescuer bukan sekadar pekerjaan. Tugas tersebut berkaitan langsung dengan keselamatan manusia sehingga setiap keputusan di lapangan harus dipertimbangkan dengan matang.
“Salah sedikit penilaian, itu nyawa taruhannya,” ungkap Vicky.
Hingga laporan tersebut diterbitkan pada Rabu (16/9/2026), operasi pencarian lima jurnalis dan tiga orang lainnya masih menjadi perhatian tim SAR gabungan. Perjuangan para rescuer terus berlangsung di tengah kondisi perairan dan kawasan Gunung Anak Krakatau yang memiliki risiko tersendiri.
- Penulis: Fathma Aulia Puteri


Saat ini belum ada komentar