Sinyal HP Jurnalis Hilang di Selat Sunda Terdeteksi di Pulau Sebesi
- account_circle Fathma Aulia Puteri
- calendar_month Jumat, 18 Sep 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak

Tim SAR gabungan melakukan pencarian lima jurnalis dan tiga orang lainnya yang hilang di perairan Selat Sunda. Foto: KompasTV.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Jakartahitz.com, Jakarta – Polisi mengungkap jejak terakhir sinyal telepon seluler milik salah satu jurnalis yang hilang kontak bersama rombongan di perairan Selat Sunda. Sinyal tersebut terdeteksi di sekitar Pulau Sebesi, Lampung Selatan, pada hari pertama setelah rombongan dinyatakan hilang.
Dilansir dari KompasTV, Kabid Humas Polda Banten Kombes Maruli Ahiles Hutapea menjelaskan bahwa polisi telah mengetahui perangkat yang sempat terdeteksi tersebut. Ponsel itu diketahui milik Firman Daus, jurnalis Anadolu yang berada dalam rombongan lima jurnalis dan tiga orang lainnya. Informasi serupa sebelumnya juga disampaikan pihak kepolisian bahwa perangkat Daus menjadi salah satu jejak komunikasi terakhir yang berhasil terpantau.
Maruli menjelaskan, sinyal tersebut tidak menunjukkan posisi ponsel secara real time. Polisi hanya mendapatkan informasi mengenai pancaran komunikasi terakhir dari perangkat ketika ponsel masih aktif.
Dengan demikian, keberadaan sinyal di Pulau Sebesi tidak otomatis berarti Daus atau rombongan berada di pulau tersebut. Data tersebut menjadi salah satu petunjuk yang kemudian diserahkan kepada tim SAR untuk membantu menentukan wilayah pencarian.
Sebelumnya, Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) juga ikut membantu pencarian dengan melibatkan operator seluler. Tiga operator diminta memantau aktivitas Base Transceiver Station (BTS) di wilayah sekitar Selat Sunda, baik dari sisi Banten maupun Lampung.
Wakil Menteri Komdigi Nezar Patria mengatakan pihaknya menerima informasi mengenai aktivitas komunikasi terakhir rombongan pada 7 September 2026. Data tersebut kemudian diteruskan kepada tim SAR sebagai bahan dalam operasi pencarian.
“Dari operator seluler kita sudah mendapatkan informasi dan informasi itu sudah diteruskan kepada SAR dan sudah diproses, berupa kontak terakhir di Pulau Sebesi,” kata Nezar.
Rombongan tersebut terdiri dari lima jurnalis, dua anak buah kapal (ABK), dan seorang pemandu. Mereka berangkat menggunakan speedboat Arupadhatu 1 dari kawasan Carita untuk meliput aktivitas Gunung Anak Krakatau.
Rombongan kemudian hilang kontak pada 7 September 2026. Tim SAR gabungan melakukan pencarian melalui jalur laut dan udara dengan memperluas area penyisiran ke sejumlah wilayah di sekitar Selat Sunda.
Jejak sinyal menjadi salah satu petunjuk yang diperiksa selama operasi. Namun, tim tidak hanya mengandalkan data komunikasi. Sejumlah benda juga ditemukan selama penyisiran, termasuk jeriken, helm, dan pelampung. Barang-barang tersebut kemudian diserahkan kepada pihak berwenang untuk diperiksa lebih lanjut.
Pencarian berlangsung di tengah kondisi kawasan Gunung Anak Krakatau yang memiliki aktivitas vulkanik. Tim SAR juga menghadapi kabut tebal yang sempat mengganggu jarak pandang ketika melakukan penyisiran.
Polisi dan tim SAR terus memeriksa setiap informasi yang dapat membantu mengungkap keberadaan rombongan. Jejak komunikasi terakhir di Pulau Sebesi menjadi salah satu data yang digunakan untuk mempersempit kemungkinan lokasi pencarian, meski hingga saat itu belum memastikan keberadaan delapan orang yang hilang.
- Penulis: Fathma Aulia Puteri


Saat ini belum ada komentar